Rabu, 09 Mei 2012

IMPLEMENTASI POTENSI PERKEMBANGAN ASPEK KOGNITIF DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI MADRASAH IBTIDAIYAH SUNAN PANDANARAN, NGANGLIK, SLEMAN, YOGYAKARTA


I.                   PENDAHULUAN
Manusia hidup, tumbuh dan berkembang. Proses kejadian manusia sejak nutfah sampai sampai menjadi manusia paripurna melalui proses evolusi  jiwa dan raga dengan sempurna. Evolusi raga pada manusia berhubungan dengan perubahan kondisi fisik atau yang biasa disebut dengan pertumbuhan. Sedangkan evolusi jiwa pada manusia berhubungan dengan perubahan kemampuan manusia menjalankan fungsi dalam menjalani kehidupan yang bermakna selama rentang kehidupannya.[1]
      Aspek-aspek perkembangan merupakan dimensi-dimensi dan gambaran karakteristik pada individu yang berkembang. Aspek-aspek tersebut meliputi:
1.      Aspek perkembangan fisik
2.      Aspek perkembangan psikomotorik
3.      Aspek perkembangan kognitif
4.      Aspek perkembangan bahasa
5.      Aspek perkembangan sosial
6.      Aspek perkembangan emosi
7.      Aspek pekembangan moral
8.      Aspek perkembangan penghayatan keagamaan
9.      Aspek perkembangan pribadi[2]
Aspek kognitif merupakan aspek perkembangan yang berkaitan dengan kemampuan individu untuk memperoleh tahu dan kemampuan berpikir. Perkembangan pola berpikir seorang individu merupakan bentuk aktualisasi perkembangan kognitif. Struktur berpikir, keterampilan berpikir, bagaimana individu meperoleh informasi, merupakan potensi perkembangan kognitif. Cara seorang siswa berfikir bisa difahami dari caranya menyampaikan pesan baik berupa ide, pertanyaan, pernyataan maupun pendapat.[3]

II.                POTENSI PERKEMBANGAN ASPEK KOGNITIF PADA MASA SEKOLAH MADRASAH IBTIDAIYAH
Potensi perkembangan kognitif pada siswa madrasah ibtidaiyah meliputi:
a.       Keterampilan berpikir
Menurut piaget pekembangan kognitif adalah kemampuan individu mengkonstruksikan secara aktif pemahaman terhadap dunia di sekitarnya. Mengkonstruksi dilakukan dengan dua proses yaitu mengorganisasi dan beradaptasi. Siswa menggunakan kepekaan terhadap lingkungannya dengan mengorganisasikan berbagai pengalaman yang di peroleh. Hasil pemahaman dan pengamatan informasi serta pengalaman yang diperoleh, akan membuat siswa mampu mengadaptasikan kerangka berfikir yang telah ada menjadi suatu ide baru.[4]
M enurut piaget, pada masa sekolah madrasah ibtidaiyah siswa berada pada tahap operasional kongkrit, yaitu siswa mulai berfikir logis. Bentuk aktifitas dapat ditentukan oleh peraturan yang berlaku. Siswa masih berfikir harfiah sesuai dengan tugas-tugas yang di berikan kepadanya.[5]
Keterampilan-keterampilan kognitif yang ditampilkan siswa pada masa sekolah madrasah ibtidaiyah adalah adalah:
Ø  Berpikir spatial, yaitu siswa dapat memahami hubungan spatial (bentuk, ruang dan gerak)
Ø  Pemikiran sebab akibat, yaitu siswa dapat menjelaskan hubungan dan bagian yang mempengaruhi hasil.
Ø  Kemampuan mengklasifikasi, kemampuan memilih, memilah serta mengelompokkan berdasarkan pemikiran logis atas ciri suatu objek.
Ø  Penalaran induktif ( penalaran logis yang bergerak dari pengamatan khusus anggota kelompok objek hingga mencapai kesimpulan kelompok subjek) dan penalaran deduktif (penalaran logis yang bertindak dari pandangan umum tentang subjek kelompok kepada kesimpulan tentang anggota kelompok subjek.
Ø  Konservasi, yaitu kemampuan siswa melihat benda berdasarkan pada prinsip identitas, prinsip reversibility, dan prinsip decenter.[6]
b.      Keterampilan memproses informasi
Kemampuan memproses informasi pada siswa meliputi daya ingat, kemampuan berpikir kritis, dan pengembangan metakognisi. Pengembangan metakognisi adalah penggunaan keterampilan-keterampilan kognitif secara selektif, bersam-sama, berkesinambungan, dan terstrukturuntk menyelesaikan persoalan yang dihadapi.  [7]
c.       Kreatifitas
Perkembangan kognitif yang meningkat memfasilitasi anak mengembangkan cara berfikir dan bertindak yang baru.[8]
d.      Intelegensi
Perkembangan kognitif merupakan potensi dasar yang memfasilitasi unjuk kemampuan intelektual seseorang. Intelegensi atau kecerdasan dipengaruhi oleh faktor genetik (keturunan) dan faktor lingkungan (pola asuh orang tua, sekolah dan budaya).[9]


III.             KOMPONEN-KOMPONEN PENDIDIKAN
Komponen-komponen pendidikan merupakan unsur-unsur yang harus ada dalam pelaksanaan pendidikan. Komponen-komponen tersebut adalah:
v  Tujuan pembelajaran, berfungsi untuk mengarahkan semua kegiatan pendidikan
v  Siswa atau peserta didik, berfungsi untuk belajar atau menjalani proses pendidikan
v  Pengelolaan atau management, berfungsi untuk mengkoordinasikan, mengarahkan, dan menilai
v  Struktur dan jadwal, berfungsi untuk mengatur waktu dan mengelompokkan siswa menurut tujuan-tujuan tertentu
v  Isi atau kurikulum, berfungsi sebagai bahan atau apa yang harus dipelajari siswa
v  Guru atau pendidik, berfungsi membantu menyediakan bahan dan menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar untuk siswa
v  Alat bantu belajar,berfungsi agar kegiatan belajar mengajar menjadi lebih menarik, bervariasi dan mudah
v  Fasilitas, berfungsi untuk menyediakan tempat untuk terjadinya kegiatan belajr mengajar
v  Teknologi, berfungsi untuk memperlancar kegiatan belajr mengajar
v  Kontrol kualitas, berfungsi untuk membina peraturan dan kriteria pendidikan
v  Penelitian, berfungsi untuk mengembangkan pengatahuan, penampilan pendidikan dan hasil kerja pendidikan
v  Biaya, berfungsi sebagi petunjuk tingkat efisiensi pendidika[10]


IV.              IMPLEMENTASI POTENSI PERKEMBANGAN ASPEK KOGNITIF DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI MADRASAH IBTIDAIYAH SUNAN PANDANARAN, NGAGLIK, SLEMAN, YOGYAKARTA
Siswa madrasah ibtidaiyah sunan pandanaran, Ngaglik, Sleman merupakan siswa yang heterogen dalam banyak hal. Mereka berasal dari latar belakang keluarga yang bermacam-macam, dari yang miskin sampai yang kaya, dari keluarga yang harmonis sampai keluarga yang broken, dan lain sebagainya.
      Perbedaan latar belakang tersebut berpengaruh terhadap perkembangan aspek kognitif siswa. Siswa yang berasal dari keluarga yang harmonis, tentu akan beda dengan siswa yang berasal dari keluarga yang broken. Rata-rata siswa yang mempunyai orang tua yang banyak meluangkan waktu untuk menemaninya belajar, perkembangan aspek kognitifnya sangat bagus. Siswa bisa menguasai keterampilan-keterampilan dan tugas-tugas perkembangan aspek kognitif dengan baik.
      Bagi kebanyaknan orang, matematika merupakan pelajaran yang sulit, tidak menyenangkan, dan tidak disukai. Hal ini sangat berbeda dengan realita yang ada di Madrasah Ibtidaiyah Sunan Pandanaran.  85 % dari 124 siswa  mengatakan bahwa mereka menyukai pelajaran matematika.
      Pembelajaran matematika di Madrasah Ibtidaiyah Sunan Pandanaran memang di kemas dengan cara yang menarik dan menyenangkan. Bebrapa hal yang dilakukan seperti:
§  Pendidikan matematika realistik, yaitu metode pembelajaran yang mengaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari siswa, sehingga siswa bisa memahami materi dengan baik karena adanya contoh nyata. Misal: angka 1 berarti 1 benda atau 1 ayam atau 1biji kacang.
§  Pembelajaran disampaikan  dari yang kongkret ke yang nyata sebagaimana langkah pembelajaran menurut teori Bruner ( konkret, semi konkret, abstrak). Contoh: dalampembelajaran penjumlahan,
-          guru menggunakan benda kongkret yang ada di dalam kelas seperti spidol, buku tulis, penggaris
-          guru menggunakan papan flanel atau gambar-gambar benda yang dapat ditempel  di atasnya
-          guru menggunakan simbol-simbol seperti 3 + 2, dan seterusnya
§  menggunakan alat peraga matematika
§  memberikan selingan berupa permainan, kuis, nyanyian dan lain sebagianya
Dengan dilakukannya proses pembelajaran yang  menarik dan menyenangkan, perkembangan aspek kognitif siswa pada pelajaran matematika biasa berkembang dengan baik.
Perkembangan kognitif siswa Madrasah Ibtidaiyah Sunan Pandanaran dalam pembelajajan matematika teraktualisasi dalam:
1.      keterampilan berpikir
kemampuan siswa Madrasah  Ibtidaiyah Sunan Pandanaran dalam berfikir berbeda-beda. Siswa yang masih kelas 1 karena masih berada pada tahap akhir operasional  lebih suka apabila dalam penyampaian materi pembelajaran menggunakan metode matematika realistik yang di hubungkan dengan kehidupan sehari-hari siswa yang bersifat fantastik. Contoh:  Nadia memiliki 10 boneka barbie. Paman datang dari kota dan memberi oleh –oleh untuk Nadia berupa boneka barbie sebanyak 7. Jadi boneka barbie nadia sekarang jumlahnya ada 17. Berasal dari 10 ditambah 7.
Hal di atas akan berbeda dengan siswa yang sudah berada di kelas atasnya. Siswa kelas 2 hingga kelas 5 sudah berada pada tahap operasional kongkret. Pola berfikirnya sudah berbeda dengan pola berfikir adik kelasnya. Siswa sudah dapat:
o    berpikir spatial, contoh: dapat  membedakan jarak jauh dan dekat, ringan dan berat,  dan dapat membedakan bermacam-macam bangun datar sederhana)
o   Pemikiran sebab akibat, Contoh: Siswa mengerjakan PR karena tahu jika tidak mengerjakan PR, dia akan dihukum oleh bu Guru
o   Mampu mengklasifikasi, memilih, memilah serta mengelompokkan berdasarkan ciri suaatu objek. Contoh: siswa bisa mengurutkan bilangan dari yang terkecil dan terbesar, siswa bisa mengelompokkan mana benda yang berat dan mana benda yang ringan
o   Berfikir induktif dan deduktif. Contoh: ketika mengerjakan latihan soal, ada siswa yang sulit mengerjakan soal nomor 2, 4, dan 5. Siswa tersebut kemudian mengeluhkan bahwa semua soal yang diberikan oleh guru adalah sulit.
o   Berfikir konservasi. Contoh: dalam penjelasan tentang asal mula rumus jajar genjang, guru menjelaskan bahwa jajar genjang itu merupakan persegi panjang yang dipotong dan dirubah bentuknya tanpa mengurangi bagian persegi panjang  sedikitpun. Dalam penjelasannya guru mempraktekkan dengan kertas lipat dan siswa diajak untuk bersama sama membuktikan kebenaran penjelasan guru.
2.      Keterampilan memproses informasi
Siswa Madrasah Ibtidaiyah Sunan Pandanaran mempunyai kemampuan memproses informasi dengan baik. Hal ini bisa dilihat dalam kemampuan daya ingat siswa, kemampuan berfikir kritis siswa, dan perkembangan metakognisi siswa. Siswa kelas 3 madrasah ibtidaiyah sunan pandanaran sudah hafal perkalian dari 1 x 1 hingga 10 x 10. Dalam proses menghafal perkalian, guru menggunakan metode yeng menyenangkan yaitu dengan nyanyian, permainan, kuis, dan tebak-tebakan. Sehingga hafalan siswa tidak hanya sekedar hafal akan tetapi juga memahami makna dan proses dari perkalian itu.
3.      Keterampilan intelegensi
Keterampilan intelegensi siswa Madrasah Ibtidaiyah Sunan Pandanaran berbeda-beda. Hal ini terjadi karena faktor-faktor yang mempengaruhi intelegensi bermacam-macam. Contoh: kecerdasan siswa yang orang tuanya penuh perhatian dan berpendidikan akan beda dengan kecerdasan siswa yang orangtuanya tidak pernah merasakan bangku sekolah dan cuek-cuek saja terhadap perkembangan anaknya.
4.      Berfikir kreatif.
Banyak kreativitas siswa Madrasah Ibtidaiayah Sunan Pandanaran  yang tampak dalam dalam proses belajar di sekolah. Contoh: ketika siswa diberi tugas untuk membuat bermacam-macam bangun datar atau bangun ruang, siswa dengan sendirinya dan tanpa disuruh  akan menghiasi hasil karya mereka dengan sesuka hati. Hai ini menandakan bahwa kemampuan kreativitas siswa di madrasah ibtidaiyah sunan pandanaran berjalan baik
            Untuk memfasilitasi siswa agar perkembangan kognitif siswa bisa berkembang dengan baik, Madrash Ibtidaiyah Sunan Pandanaran menciptakan lingkungan perkembangan yang diharapkan, yaitu:
                                i.            Mengembangkan proses pembelajaran dengan pendekatan kontruktivisme, yaitu siswa diajak untuk aktif dan inovatif
                              ii.            Guru berperan sebagai fasilitator.
                            iii.            Guru menggunakan pengetahuan dan tingkatan berfikir yang dimiliki siswa
                            iv.            Mendorong kesehatan intelektual siswa dengan cara memfasilitasi dan memberikan apresiasi atau penghargaan sperti gadiah, pujian, tanda bintang bagi siswa yang mampu memahami materi dengan baik
                              v.            Penataan kelas dibuat sedemikian rupa sehingga siswa bisa terpancing untuk melakukan penelitian, penemuan dan eksplorasi


V.                 PENUTUP DAN KESIMPULAN
Perkembangan kognitif siswa Madrasah Ibtidaiyah Sunan Pandanaran berada pada tahap akhir pra operasional dan operasional kongkret. Aktualisasi perkembangan kognitif siswa Madrasah Ibtidaiyah Sunan Pandanaran dapat dideteksi dari tampilan kecerdasan siswa dalam menyelesaikan tuntutan akademik dan pencapaian belajar yang optimal sesuai dengan kapasitas dirinya. Untuk menstimulasi perkembangan kognitif siswa, Madrasah Ibtidaiayh Sunan Pandanaran memberikan fasilitas yaitu dengan menciptakan lingkungan perkembangan yang diharapkan.


VI.              DAFTAR PUSTAKA
Yusi Riksa Y , Dra, M.Pd, perkembangan peserta didik, Jakarta, Diektorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama, 2009
Tatang syarifudin, Drs, M. Pd, landasan pendidikan, Jakarta, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama, 2009
Zulkifli, psikologi perkembangan, Bandung: PT. Remaja rosdakarya, 2002


[1] Yusi Riksa, Perkembangan Peserta Didik,( Jakarta, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama Republik Indonesia, 2009), hlm 74.
[2] Ibid, hlm 81 - 82
[3] Ibid, hlm 129
[4] Ibid, hlm 133
[5] Zulkifli, Psikologi Perkembangan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2002), hlm 18
[6] Yusi Riksa., op. cit, hlm 135
[7] Ibid, hlm 136
[8] Ibid, hlm 138
[9] Ibid, hlm 137
[10] Tatang Syarifudin, landasan pendidikan (Jakarta: Direktorat Jenderal pendidikan Islam Departemen Agama, 2009), hlm 31

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar